Mengapa Setiap Keberhasilan Sulit Dipertahankan?
Dunia saat ini sedang mengalami globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Banyak penemuan – penemuan baru yang dapat membantu pekerjaan manusia dan bahkan menggantikan peran manusia itu sendiri. Sudah banyak teknologi yang dapat menggantikan peran manusia dalam kehidupan sehari – hari. Perkembangan yang pesat ini tidak bisa diterima begitu saja tanpa ada kesiapan dari masyarakat itu sendiri. Akan terjadi banyak ketimpangan antara masyarakat yang bisa menerima nilai – nilai baru tersebut dan yang masih terpaku dengan nilai – nilai lama. Akhirnya, masyarakat yang masih terpaku nilai lama tersebut akan tergerus dengan masyarakat – masyarakat yang mulai peka terhadap kemajuan teknologi ini. Hal tersebut bisa dikenal dengan istilah disrupsi.
Disrupsi merupakan keadaan dimana terjadi perubahan dalam peradaban manusia. Perubahan tersebut terjadi dalam segala aspek, dari aspek social, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Perubahan tersebut dapat bersifat gangguan dan bersifat inovatif. Disrupsi dapat berdampak gangguan kepada pelaku – pelaku bisnis lama atau yang bisa dikenal incumbent yang tidak dapat beradaptasi dan masih terbelenggu dengan sistem – sistem lama. Disrupsi yang bersifat inovatif berdampak positif pada pelaku bisnis – bisnis baru yang mulai beradaptasi dengan arus globalisasi yang sangat cepat.
Disrupsi inovasi tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang. Dari incumbent dan pelaku bisnis baru. Incumbent yang masih mempertahankan nilai – nilai lama perlahan akan tergerus dengan kemajuan teknologi yang pesat ini. Pelaku bisnis baru yang peka terhadap kemajuan ini akan mulai menggantikan bisnis – bisnis lama yang enggan membuka mata pada hal baru. Penggerusan oleh disrupsi ini tidak memandang seberapa besar bisnis – bisnis yang sudah dijalani sebelumnya. Ada banyak perusahaan besar yang tadinya memegang kendali pasar mulai tergantikan dengan bisnis – bisnis baru yang lebih inovatif. Salah satu contohnya adalah Nokia dan Nikon. Kedua perusahaan tersebut merupakan salah satu pemegang kendali pasar dalam bidangnya masing – masing. Namun tanpa disadari mereka mulai hancur dengan datangnya bisnis – bisnis baru yang lebih inovatif. Hal itulah yang akan dibahas dalam BAB 5 ini. Apa yang terjadi pada perusahaan – perusahaan sukses tersebut. Mereka tidak membuat kesalahan, namun tiba – tiba hilang tergantikan bisnis – bisnis baru. Mengapa setiap keberhasilan sulit untuk dipertahankan?
Teori disrupsi inovasi ini dikemukakan oleh Clayton M. Christensen pada tahun 1997. Awalnya teori ini hanya membahas tentang inovasi teknologi yang terjadi pada pabrik – pabrik produsen barang. Disrupsi inovasi ini membahas tentang teknologi baru yang membuat produksi barang menjadi lebih sederhana, murah, dan mudah untuk dilakukan. Hal tersebut diperoleh dengan adanya perkembangan teknologi yang mulai menemukan cara – cara baru untuk menghasilkan suatu barang. Teknologi juga dapat memanfaatkan bahan baku yang lebih murah untuk dihasilkan sebagai barang produksi yang memiliki kualitas unggul. Salah satu contohnya adalah perusahaan Krakatau Steel yang mulai tergusur industri– industri dari Asia Timur. Hal itu menunjukkan incumbent yang kurang bisa merespon globalisasi dengan baik. Para incumbent lebih memilih untuk menekan bahwa pelaku bisnis baru harus mengikuti aturan – aturan lama yang sudah ia jalankan. Contoh lainnya adalah perusahaan besar seperti Sears (Ameriika Serikat) yang digemari rakyat saat itu karena memiliki sistem bisnis yang mengedepankan pelayanan konsumen. Hal itu membuat ia menjadi salah satu perusahaan besar yang sukses. Kemudian muncul pelaku bisnis baru seperti Walmart (Amerika Serikat) yang memiliki model baru berupa discount store. Walmart mengembangkan bisnisnya dengan cara mendapatkan barang – barang yang memiliki harga jual rendah namun memiliki kualitas yang cukup baik. Hal itu didapat dengan mencari barang ke penjuru – penjuru seperti China.
Mengapa setiap keberhasilan sulit untuk dipertahankan? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Jim Collins 8 tahun 2001 dengan konsepnya Good to Great. Ia mengemukakan, “Good is the enemy of greatness.” Jadi, pelaku bisnis besar kalau sudah merasa bisa tidak ingin untuk mengembangkan lebih lanjut atau menjadi lebih baik. Kemudian Christensen melanjutkan dengan penelitiannya. Ia menjelaskannya dalam sebuah diagram. Diagram tersebut menunjukkan para pelaku bisnis besar mengembangkan bisnisnya dengan mengedepankan performanya pada pasar kelas atas. Hal itu membuat pasar – pasar kelas bawah tidak dapat terjangkau. Sebagai contohnya adalah produsen mobil yang terus mengembangkan produksinya dalam hal performa dan menciptakan harga yang tinggi. Para konsumen kelas bawah tentu sulit untuk menjangkau itu dan lebih memilih mobil yang lebih sederhana dan murah. Itu adalah contoh sederhana dari mengapa keberhasilan sulit untuk dipertahankan.
Teori disrupsi inovasi ini memliki hubungan dengan sejarah kapitalisme dan marxisme. Pada zaman perang dunia terbagi menjadi dua kekuatan besar dan mengembangkan bisnisnya dengan ideologi masing – masing. Keduanya meramalkan kehancurkan lawannya di masa depan dan juga mengalami jatuh bangkit berkali – kali. Pada akhirnya marxisme mengalami kehancuran dengan ditandai kekalahan mereka dalam perang dunia ke-2. Sejak saat itu para pemegang ideologi marxisme mulai terbuka satu sama lain. Keduanya juga memiliki sistem yang abu – abu, dengan malu menyatukan kedua ideologi tersebut. Hubungannya dengan disrupsi inovasi adalah para penganut kedua ideologi tersebut pasti mengalami jatuh bangkit dalam menjalani bisnisnya. Mereka harus bisa menyesuaikan dan bertahan dalam badai abadi dalam perjalanan bisnis. Seperti yang dikemukakan Schumpeter (1883-1950). Ia mengemukakan bahwa krisis ekonomi tersebut merupakan badai abadi yang tidak dapat dihindari. Pelaku bisnis harus bisa bertahan dengan mengembangkan bisnisnya dengan disrupsi inovasi. Penganut kapitalisme dinilai dapat melakukan inovasi dalam mempertahankan ideologinya agar tidak hancur oleh krisis ekonomi yang dahsyat saat itu.
Arus globalisasi yang cepat menciptakan banyak teknologi baru yang dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari – hari. Hal ini menyebabkan adanya perubahan inovasi dari zaman ke zaman. Dahulu pelaku bisnis melakukan inovasi dengan mengembangkan model – model bisnis baru yang mengedepankan pelayanan dan pengembangan performa produk. Dewasa kini, inovasi dapat dilakukan dengn memanfaatkan teknologi – teknologi baru yang dapat memudahkan manusia. Teknologi tersebut bersifat lebih sederhana, murah, dan mudah dijangkau oleh siapapun. Pelaku bisnis harus lebih kreatif dalam memanfaatkan teknologi ini dengan tepat. Kemudian incumbent juga harus mulai peka terhadap ancaman dari para pendatang ini. Harus mulai mendisrupsi diri sendiri dan beradaptasi dengan masa kini.
Disrupsi merupakan suatu perubahan besar yang berdampak luas dalam segala aspek kehidupan. Disrupsi semakin didorong dengan lahirnya generasi millenials yang disebut sebagai generasi perubahan di tahun millennium. Generasi ini mulai melintas dengan bebas di dunia global. Hal itu berdampak luas pada hal – hal berikut ini. Disrupsi memberi ancaman pada seluruh incumbent, disrupsi menciptakan pasar baru yang dulu diabaikan incumbent, dan terakhir disrupsi menimbulan dampak deflasi. Hal – hal di atas diperoleh karena kemajuan teknologi masa kini sehingga barang – barang mudah diperoleh dan dikembangkan dengan baik.
Sebagai generasi millenials sudah seharusnya kita mulai peka terhadap disrupsi ini. Kita harus bisa melakukan inovasi – inovasi baru dalam kehidupan. Para incumbent dan pelaku awal disrupsi sudah mengantarkan kita ke langkah yang lebih maju, tinggal kita manfaatkan dengan baik dan tepat. Harus mulai terbuka dengan nilai – nilai baru positif dan mulai menghilangkan pola pikir masa lalu. Memang ada banyak yang tergantikan dengan adanya disrupsi ini. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa disrupsi ini sudah menyeruak masuk ke kehidupan kita dan harus bisa dikendalikan dengan baik untuk memenuhi segala aspek kehidupan di dunia ini. Perubahan yang besar dapat menciptakan pemberdayaan ekonomi yang baru, kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, dan menciptakan daya efisiensi yang dapat menghambat masyarakat bekerja. Itulah persoalan yang harus dihadapi saat ini. Kita menginginkan efisiensi namun di sisi lain berdampak pada kesempatan bekerja masyarakat. Itulah mengapa disrupsi harus dikelola dan dikendalikan dengan sebaik – baiknya.
Daftar Pustaka
Kasali, R. Agustus 2019. DISRUPTION. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama
Komentar
Posting Komentar